Skizofrenia
Oleh : KristianW
“Aku tidak gila! Aku tidak
membunuhnya, bukan aku yang membunuhnya!” ungkap seorang pasien di Rumah Sakit
Jiwa Magnefield, yang bernama Matthew Rolas.
***
Namaku adalah Thomas Walter. Aku adalah seorang detektif. Yang sering
memecahkan kasus-kasus misterius. Berbagai kasus pembunuhan, penculikan,
pencurian dan masih banyak lagi, sudah kutangani hingga tuntas. Aku juga
memiliki istri yang bernama Janice Watson. Namun istriku meninggal karena
dibunuh oleh seorang pembunuh yang sangat keji bernama Matthew Rolas. Meskipun
pembunuh itu dihukum penjara tapi aku tetap memiliki dendam kepadanya.
Disamping itu, untuk pekerjaan aku ditemani oleh rekanku yang bernama Dean
Marquez. Ia adalah seorang rekan yang sangat cocok denganku, kami sering
bercanda gurau dan tertawa bersama. Sungguh rekan terbaik yang pernah kutemui.
Kami berdua bekerja sendiri alias independen. Tapi meskipun tanpa topangan kami
tetap memiliki banyak pelanggan. Setiap bulan pasti ada orang yang datang
kepada kami untuk meminta bantuan untuk masalahnya. Dan juga kami biasa
menyebut diri kami sebagai ‘The Riddler’.
Hingga akhirnya ada kasus yang agak berbeda kali ini.
Saat ini kami sedang dalam kasus yang
berada di rumah sakit jiwa. Rumah sakit ini bertempat di suatu pulau terpencil
namun pulau ini sangat indah dan sejuk. Ngomong-ngomong aku juga menerima kasus
ini karena aku mengetahui bahwa Matthew dipindahkan ke sini dari penjaranya.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, aku langsung disambut hangat oleh kepala
rumah sakit itu.
“Selamat datang di Rumah Sakit Jiwa
Magnefield. Detektif Thomas.” Sambut sang kepala rumah sakit
“Ya, Terima kasih sudah mengundang
kami, pak.” Balasku
“Sama-sama, Detektif Thomas.
Ngomong-ngomong, namaku adalah Dr. Wells”
“Baiklah. Jadi masalah apa yang
sedang kita hadapi sekarang ini?” tanyaku
“Begini, jadi salah satu pasien kami
yang bernama Jane Wainscot melarikan diri dari sini kemarin.” Ungkapnya
“Apakah ada petunjuk? Atau informasi
lainnya tentang pelarian dia?” ujarku
“Yang kami tahu hanya bahwa dia
melarikan diri kemarin malam pukul 23.45.” Jelasnya
“Bagaimana jika kita melihat
kamarnya?” tanyaku kepada Dr. Wells
“Oh iya, silahkan. Aku dan beberapa
perawat akan mengantarkanmu kesana” balas Dr. Wells
Akhirnya sang kepala rumah sakit
mengantarkan kami ke kamar Jane. Lalu aku masuk dan melihat kedalamnya. Didalam
kami tidak menemukan apapun, kecuali secarik kertas yang berada di kolong
ranjangnya. Kertas itu bertuliskan ‘Siapakah yang ke-53?’
“Apa maksudnya ini? 53?” tanyaku
kebingungan
“Siapakah yang ke 53.... Sial, andai
aku mengerti.” Seru Dean
“Apakah mungkin ini tidak ada
artinya?” tanyaku
“Tidak. Nyonya Wainscot sangat
pintar dan cerdas. Tidak mungkin dia meninggalkan sesuatu tanpa arti. Kertas
ini akan menjadi sangat penting” Jelas Dr. Wells sambil mengulurkan tangannya
untuk mengambil kertas itu, tapi kutolak.
“Maaf tapi kami perlu ini untuk
dijadikan pegangan.” Ucapku
“Oh tentu saja.” Balasnya sambil menarik
tangannya
Setelah itu kami keluar dari sana
dan Dr. Wells memutuskan untuk mengumpulkan semua perawat rumah sakit untuk
mendapatkan informasi tentang pelarian Jane. Tapi yang ia lakukan hanya
sia-sia. Tidak ada petunjuk pasti dari pelariannya Jane. Akhirnya kami tidak
mendapatkan apa-apa. Tetapi karena sudah larut malam kami pun memutuskan untuk
menginap disini. Kami akan tetap disini sampai masalah ini selesai hingga
tuntas.
Ketika di kamar, aku
berbincang-bincang dengan Dean.
“Hey Dean, kau masih belum terpikir
arti dari angka 53 itu?” tanyaku kepada Dean
“Menurut pemikiranku, 53 itu adalah
suatu jumlah. Jumlah total pasien di rumah sakit ini. Tapi aku tidak mengerti
dengan jelas. Ini adalah suatu teka-teki yang cukup sulit. Tutur Dean
“Ya, aku setuju. Untuk lebih
jelasnya, kita harus menemukan dia! Bagaimana kalau besok pagi kita menelusuri
pulau ini dan mencari Jane?” ucapku
“Baiklah. Aku ikut, bos.” balasnya
***
Pagi telah tiba. Sungguh pagi yang sangat
cerah. Beberapa saat setelah mandi dan sarapan, aku dan Dean langsung berjalan
keluar penginapan untuk menelusuri pulau ini. Pulau ini cukup besar untuk
ditelusuri, namun tetap mungkin kami telusuri dengan jalan kaki. Kami sudah
mencari ke hutan, tidak ada apa-apa. Setelah itu kami pergi ke tepi pulau ini,
dan kami melihat sebuah mercusuar yang sangat besar dan tinggi. Aku penasaran
apa yang ada disana, tidak mungkin itu hanyalah bangunan yang kosong. Aku yakin
pasti ada sesuatu didalam sana. Sesaat setelah aku mengamati mercusuar
tersebut, Dean memanggilku dan menyuruhku untuk melihat sesuatu. Aku langsung
melihatnya dan yang kulihat adalah sebuah jasad manusia yang mungkin terjatuh
dari tebing ini dan... Apakah itu Jane Wainscot?!? Ya aku yakin itu adalah
jasad Jane Wainscot. Lalu aku dan Dean memutuskan untuk menuruni tebing ini,
dan menghampiri jasad itu. Untuk mengecek apakah ini benar Jane atau bukan.
Setelah kami menuruninya, ternyata
tidak ada apa-apa. Ini hanyalah sebuah corak pada karang yang terlihat seperti
manusia. Apa-apaan ini! Dari atas kulihat sangat jelas bahwa ini adalah
manusia. Terbuanglah usahaku dengan sia-sia.
Lalu seketika datang segerombolan
tikus yang berasal dari lubang-lubang di tebing. Menjijikan! Aku tidak mengerti
mengapa bisa ada tikus sebanyak ini. Lalu aku melihat sebuah gua dan akhirnya
kami dengan cepat masuk kesana karena jijik dengan tikus-tikus ini. Dan ketika
di luar gua aku melihat ada bayangan api unggun. Itu berarti ada orang di dalam
gua ini. Ketika aku masuk dengan perlahan-lahan, langkah demi langkah kulalui
hingga kedalam. Tiba-tiba ada seorang wanita tua menodong pisau kearahku.
“Siapa kalian?!” tanya wanita tua
itu sambil menodong pisau
“Kami adalah detektif, nyonya. Kami
tidaklah jahat.” Jelasku
“Oh, baiklah kalau begitu” katanya
sambil menurunkan pisaunya
“Apakah kau Jane Wainscot?” tanyaku
“Ya, mengapa?” balasnya
“Oh, syukurlah kau masih hidup.
Mengapa kau melarikan diri dari Magnefield, nyonya?” tanyaku penasaran
“Karena sebenarnya aku bukanlah
pasien!” serunya dengan nada tinggi
“Kau... perawat?” tanyaku
kebingungan
“Ya aku adalah perawat. Kau pikir
aku ini gila??” ucap Jane
“Tidak, aku...” belum selesai aku
berbicara ia melanjutkan kata-katanya
“Dan jika aku bilang bahwa aku tidak
gila. Itu tidak membantu bukan? Tidak ada yang percaya denganku. Sekali
dinyatakan gila, maka semua hal yang kita lakukan adalah bagian dari kegilaan
itu.” Jelasnya
“Memangnya apa salahmu sehingga kau
dinyatakan gila orang-orang?” tanyaku
“Rumah sakit ini bukanlah rumah
sakit yang biasa. Mereka tidak hanya merawat orang-orang yang gila, mereka juga
memiliki tujuan lain disini. Kau pernah dengar Neuroleptics?” tanya Jane
“Apa itu? Aku tidak pernah dengar itu.” Jawabku
“Itu adalah program cuci otak.
Mereka memasang helm dengan alat kejut listrik di kepala korban dan menusuk
suntik ke bola mata pasien. Itu sangatlah gila! Bayangkan. Jarum, ke dalam
mata! Itu adalah perbuatan yang sangat biadab. Dan itu membuat pasien
kehilangan kesadarannya. Mereka jadi dapat mengontrol pasien. Itulah yang
mereka lakukan disini. Lalu ketika aku mengetahui semua ini, mereka
menjadikanku pasien dan aku hanya tinggal menunggu waktuku untuk di ujicoba.”
Tutur Jane
“APA?! Itukah yang mereka lakukan?? Ini sudah diluar batas kemanusiaan. Aku
tidak bisa tinggal diam saja.” Ucapku keheranan
“Ya, mereka melakukan itu semua. Apakah kau melihat sebuah mercusuar besar
saat menuju kesini?” tanya Jane
“Aku melihatnya! Dan aku
bertanya-tanya apa kira-kira apa isi dari mercusuar itu.” Jawabku
“Disanalah mereka melakukannya, Neuroleptics. Mereka melakukan itu tepat
di mercusuar.” Tutur Jane
“Oke kalau begitu kami akan bergerak
cepat. Besok pagi kami akan pergi ke mercusuar dan kami akan mengungkapkan
kebenaran.” Ucapku dengan semangat
“Terima kasih detektif sudah mau
membantuku untuk memberantas masalah ini. Kalian adalah pahlawan kami.” Ucap
Jane
“Baiklah, pertanyaan terakhir,
nyonya. Apakah anda mengenal atau memiliki informasi tentang Matthew Rolas?”
tanyaku
“Matthew Rolas... aku pernah
mendengar namanya. Dia adalah pasien terakhir yang masuk ke Magnefield. Menurut
informasi yang beredar dia dimasukkan kesini karena dia menyangkal pembunuhan
yang dia lakukan. Sehingga pihak penjara memindahkannya kesini.” Kata Jane
“Hm.. terima kasih atas informasinya
nyonya. Sangat membantu.” Ucapku
“Tidak apa-apa. Senang membantu.”
Balas Jane
Ternyata perbincangan kita yang
lumayan mencengangkan membuat waktu tidak menjadi terasa. Sekarang hari sudah
malam. Tidak mungkin aku akan kembali, jadi aku dan Dean tinggal di gua ini
untuk semalam. Tentang mercusuar mungkin aku tidak benar-benar ingin mencegah
para penjahat disana. Tapi aku ingin mencari seseorang yang bernama Matthew
Rolas. Aku ingin membalaskan dendam istriku yang sudah dia bunuh secara keji.
Sementara Jane sedang tidur, aku mengobrol dengan Dean.
“Hey Dean, bagaimana menurutmu
tentang mercusuar itu?” tanyaku
“Menurutku apa yang terjadi disana
sangat kejam. Kupikir mereka akan membuat suatu pasukan, ya, karena mereka
mencuci otak pasien-pasien yang ada disini. Apalagi yang bisa terjadi dengan
cuci otak massal selain membuat pasukan? Aku yakin itu.” Tutur Dean
“Ya aku setuju denganmu. Tapi selain
itu aku ada tujuan lain juga pergi ke mercusuar” balasku
“Apa itu, bos?” tanya Dean
“Sebenarnya aku juga ingin mencari
Matthew Rolas.” Jawabku
“Oh iya bicara tentang Matthew
Rolas. Dia itu siapa?” tanya Dean lagi
“Matthew Rolas adalah seorang
pembunuh. Dialah yang membunuh istriku. Malam itu, aku ingat dia melakukannya
tengah malam dirumah kami. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kami tepat
jam 12 malam. Saat itu istriku yang membukakan, aku tetap di kamar. Lalu
tiba-tiba... DORR! Lalu aku tersontak kaget dan langsung menuju kebawah untuk
melihat apa yang terjadi. Ketika aku sampai dibawah, aku mendapati istriku
sudah tidak bernyawa. Pembunuh itu masih terlihat dimataku saat itu. Langsung
aku lari dan mengejarnya, namun aku tidak bisa menangkapnya. Tapi tidak lama
kemudian bantuan datang yaitu polisi. Akhirnya dia berhasil ditangkap dan
dibawa ke kantor polisi terdekat. Dan ketika ditanya alasan dia melakukan itu,
kau tahu jawabannya?” ucapku
“Apa itu, bos?” sahut Dean
“Dia menjawab bahwa ia membunuh
istriku karena istriku pernah menolak cintanya ketika masih duduk di bangku
sekolah. Jadi ia menyimpan dendam dan ia membalaskan dendamnya pada malam itu.
Aku benar-benar tidak bisa menerima kematiannya, jadi aku akan mencarinya besok
di mercusuar dan aku akan membunuhnya!” seruku
“Aku turut bersedih, bos. Orang
seperti itu sangat tidak masuk akal. Dia membunuh seseorang hanya karena
ditolak cintanya?! Sungguh suatu kebodohan. Baiklah bos, untuk sekarang mari
kita istirahat dan besok kita akan pergi ke mercusuar dan kita akan menemukan
orang itu.” Tutur Dean
“Baiklah Dean, terima kasih sudah
senantiasa menemaniku hingga kita sampai disini. Kau benar-benar rekan
terbaik.” Balasku
***
Pagi telah tiba. Inilah saatnya aku
memberantas kejahatan di rumah sakit ini dan sekaligus mencari Matthew Rolas.
Aku akan membunuhnya kali ini dan membalaskan dendam istriku. Pertama aku
kembali ke Magnefield untuk mengambil perlengkapan detektifku. Untungnya aku
membawa pistol kesini, jadi itu cukup untuk membunuhnya dengan cepat. Aku tidak
peduli apa yang terjadi setelah aku membunuhnya. Yang penting dia mati, dan
dendam istriku terbalaskan! Setelah aku mengambil perlengkapanku, langsung aku
berangkat bersama Dean menuju ke mercusuar. Disitulah tempat terjadinya program
cuci otak itu. Jadi aku memiliki dua misi. Mengungkap kebenaran sekaligus
membalaskan dendam. Sungguh ironi, Hahahaha.
Setelah melalui perjalanan yang
cukup panjang, kami akhirnya sampai di mercusuar. Dengan hati-hati kami masuk
kedalam. Ternyata jika dilihat dari dekat mercusuar ini cukup tinggi. Setelah
didalam kami menyiapkan pistol kami untuk bersiap-siap. Kami menaiki tangganya.
Setiap satu lantai terdapat ruangan, kami buka satu persatu ruangan tersebut.
Tapi yang kami dapati hanyalah ruangan yang kosong. Akhirnya kami sampai ke
puncak. Ini adalah ruangan yang terakhir. Tidak mungkin ruangan ini kosong
lagi. Dengan perlahan kami mendekati pintu. Langkah demi langkah kami lalui.
Sampai ke depan pintu. Dan akhirnya kubuka! Benar ruangan ini tidaklah kosong.
“Halo, Detektif.” Sapa Dr.Wells
“Hahahahah. Ketahuan kau Dr.Wells.
Aku tahu apa yang akan kau lakukan sekarang ini. Tidak usah menyangkal lagi.”
Balasku
“Tolong...” ucap Dr.Wells dengan
nada lembut
“Tidak usah menyangkal lagi! Kau
akan melakukan program itu, kan?! Kau akan mencuci otak kami semua dan membuat
pasukan.” Balasku lagi
“Kami tidak pernah melakukan itu,
Matth.” Balasnya
“Mengapa kau selalu berbohong?
Jelas-jelas aku mendapat informasi langsung dari mantan pegawaimu. Jane
Wainscot, kami menemukannya! Dan ia menceritakan semuanya. Neuroleptics, Hah?!” ucapku dengan emosi semakin meluap
“Kapan kau bertemu dia?” tanya Dr.Wells
“Kemarin sore, di gua. Dia
menceritakan semuanya. Dan kau tidak akan menemukannya.” Balasku
“Ya.. aku tidak meragukan itu.
Dengan pertimbangan dia tidaklah nyata. Tapi halusinasimu semakin parah.” Jelas
Dr.Wells
“Dan juga sejak pagi tadi ini tanganku
terus bergetar. Apakah kau juga akan melakukannya kepadaku?? kau juga ingin
menjadikanku salah satu dari pasukan yang kau buat??”
“Kau tidak sedang dalam Neuroleptics. Kau tidak dalam pengaruh
apapun itu yang sebenarnya.” Jelas Dr.Wells
“Lalu apa-apaan ini? Hah?! Mengapa
tanganku terus bergetar dan semakin parah??” kataku dengan emosi semakin meluap
“Efek samping.” Balasnya singkat
“Efek samping?! Aku bahkan tidak
pernah minum apapun sejak sampai disini.” Balasku
“Ya. Zogpromazine.” Balasnya singkat
lagi
“Zog.. Zogpro.. Zogpro apa?” kataku
kebingungan
“Zogpromazine. Hal sama yang kami
berikan kepadamu selama dua tahun terakhir.” Jelas Dr.Wells
“Apa?! Jadi kau sudah mempergunakan
seseorang selama dua tahun terakhir. Memberiku obat di New York, Hah?!” balasku
“Tidak, tidak di New York. Tapi
disini, di Magnefield. Kau adalah pasien terakhir yang masuk ke Magnefield. Kau
adalah pasien ke-53.” Ucap Dr.Wells
“Tidak mungkin!! Aku adalah
detektif! Dan kau tidak bisa menyangkalnya. Karena aku memang detektif. Kau
bisa tanya kepada Dean rekanku untuk memberi bukti.” Jawabku
“Matthew.. kau tidak pernah
mempunyai rekan. Itu semua hanyalah halusinasi semata. Jane Wainscot, Dean?
Mereka tidaklah nyata. Begini, kita coba cara lain. Thomas Walter-Matthew
Rolas, kedua nama itu sama-sama memiliki 12 huruf. Itu adalah nama yang saling
berhubungan. Dan juga nama istrimu Janice Watson, benar?” ucap Dr.Wells
“Jangan membawa-bawa istriku!”
seruku
“Janice Watson-Jane Wainscot. Setiap
nama saling berhubungan. Dan kau ingin mengungkap kebenaran? Baiklah, namamu
adalah Matthew Rolas. Pasien ke-53 di Magnefield adalah kau, Matthew.” Jelas
Dr.Wells
“Omong Kosong..” kataku tidak
percaya
“Kau dirawat disini atas perintah
pengadilan dua tahun yang lalu. Kejahatanmu sangat keji. Dan kau tidak
menyesalinya. Jadi kau menciptakan pribadi yang lain untuk menutupi kejahatanmu
itu. Dan menciptakan cerita sendiri dimana kau bukanlah seorang pembunuh.
‘Seorang detektif yang datang ke Magnefield hanya karena kasus.’ Aku telah
mendengar fantasi ini selama dua tahun. Dan aku tahu semuanya dengan detail. Jane
Wainscot, rekanmu Dean, para tikus, neuroleptics,
dan semua halusinasimu yang lain.” Tutur Dr.Wells
“INI TIDAK BENAR!! Namaku adalah
Thomas Walter dan aku adalah seorang detektif!! Jika kau tetap bersikeras
meyakinkanku bahwa aku gila, aku akan menarik pelatuk ini.” Ucapku dengan nada
tinggi sambil menodong pistol kearahnya
“Dengarkan aku, Matthew! Dua tahun
yang lalu. Kau membunuh istrimu karena kau melihat dia berciuman dengan pria
lain. Dan sampai di rumah kau langsung meluapkan amarahmu dan menembaknya tepat
di jantung. Ini adalah buktinya. Kau tidak bisa menyangkal lagi.” Kata Dr.Wells
sambil menunjukkan foto jenazah seorang wanita
Aku terdiam. Aku mengenali foto ini.
Setelah beberapa lama aku terdiam, tiba-tiba muncul sebuah memori. Memori ini
dengan jelas datang kepadaku. Saat-saat ketika aku, ya, aku Matthew Rolas
membunuh istrinya sendiri karena melihat dia berciuman dengan pria lain. Tidak
lama kemudian, kepalaku terasa berat sekali. Lama-kelamaan semakin berat. Dan
tiba-tiba semua menjadi hitam.
***
Aku terbangun, di sebuah kamar. Dan
aku melihat Dr.Wells bersama perawat lainnya berdiri di hadapanku. Tanpa basa
basi Dr.Wells langsung memberikan pertanyaan kepadaku.
“Mengapa kau disini?” tanya Dr.Wells
“Karena aku membunuh istriku...”
jawabku
“Dan mengapa kau melakukan itu?”
tanya Dr.Wells lagi
“Karena dia berciuman dengan pria
lain dan saat itu emosiku tidak terkontrol.” Jawabku
“Siapa Thomas Walter?” tanya Dr.Wells
lagi
“Bukan siapa-siapa. Dia hanyalah
pribadi ciptaanku untuk menutupi kejahatanku ini. Dan Jane Wainscot, Dean.
Mereka tidaklah nyata.” Jawabku
“Baiklah, aku harap kau sudah
sembuh. Tapi begini Matth, kita pernah melakoni ini sebelumnya. Dua kali selama
dua tahun terakhir ini dan kau selalu mengalami kemunduran.” Jelas Dr.Wells
“Aku tidak ingat itu..” jawabku
kebingungan
“Kau me-reset Matthew. Kau sudah pernah seperti ini, namun setelah satu
hari. Kau kembali lagi dengan Thomas Walter mu itu. Aku berharap bahwa apa yang
kami lakukan cukup untuk menghentikan hal itu terjadi lagi, tapi aku ingin tahu
bahwa kau telah menerima kenyataan.” Tutur Dr.Wells
“Aku tidak tahu bahwa selama ini kau
menolongku, Dr.Wells. Terima kasih karena sudah selalu membantuku selama dua
tahun terakhir ini. Kau benar-benar berperan besar dalam hidupku ini.” Ucapku
Akhirnya aku telah mengungkap
kebenaran. Ya, kebenaran bahwa orang yang membunuh istriku adalah diriku
sendiri. Aku hanya membuat cerita lain agar aku bisa menutupi kenyataan yang
pahit ini. Waktu itu karena aku tidak habis pikir dan juga emosiku tidak
terkontrol. Sehingga akhirnya aku membunuhnya. Aku sungguh menyesal sekarang.
Aku sudah menghilangkan satu nyawa dan aku masih benar-benar mencintainya. Aku
tidak tahu bagaimana menebus dosaku itu. Mungkin cara ini adalah cara terbaik
untuk menebus dosaku. Tetap tinggal di Magnefield hingga akhir hidupku.
Setelah aku sadar dengan semuanya
aku kembali menjalani pengobatanku di Magnefield. Pastinya dengan menggunakan
nama Matthew Rolas. Bukan ‘Detektif Thomas Walter’. Hahahahaha. Hingga malam
pun tiba dan aku memutuskan untuk tidur.
***
Namaku adalah Thomas Walter. Aku
adalah seorang detektif. Yang sering memecahkan kasus-kasus misterius. Berbagai
kasus pembunuhan, penculikan, pencurian dan masih banyak lagi, sudah kutangani
hingga tuntas. Aku juga memiliki istri yang bernama Janice Watson. Namun
istriku meninggal karena dibunuh oleh seorang pembunuh yang sangat keji bernama
Matthew Rolas. Meskipun pembunuh itu dihukum penjara tapi aku tetap memiliki
dendam kepadanya.
...
...
...
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar