Alam baka
Oleh : KristianW
Aku terbangun. Di suatu tempat, tempat yang hampa,
semuanya kosong, hanya warna putih yang aku lihat. Aku tidak tahu ini dimana.
Lalu datanglah seseorang yang tidak aku kenal menghampiriku dan berkata.
“Halo anak muda.” Sapa orang asing itu.
“Mengapa aku bisa disini? Siapa kamu? Ini dimana?”
“Kamu sudah mati.”
“APA?!? AKU SUDAH MATI?? INI TIDAK MUNGKIN TERJADI.” Aku
sangat kaget mendengarnya.
“Tenang, anak muda, kau benar-benar sudah mati. Cobalah
ingat apa yang terjadi tadi.” Jelas orang itu.
“Baiklah, tapi aku belum siap untuk mati.” Jawabku lesu.
“Semua orang juga akan mati pada akhirnya.” Katanya
dengan lembut.
“Jadi?? Kau adalah Dewa?” tanyaku penasaran.
“Ya
semacam itulah Aku.” jelasnya.
“Jadi
kau ini dewa yang ‘itu’, ya?”
“Bukan.”
Jawabnya dengan tegas.
“Sial,
percuma saja aku percaya dewa ‘itu’ saat aku hidup.”
“Yang
kau lakukan itu tidak salah, hanya saja itu bukan Aku, atau... itu memang
Aku??”
Lalu aku terdiam dan melihat
sekeliling. Ternyata Dia benar-benar dewa. Semua yang tadinya hanya kosong,
semua putih. Kini tercipta suatu tempat yang sangat indah di tempat aku berdiri
ini. Lalu Dia mengajakku berjalan sejenak dan mengajakku mengobrol.
“Jadi,
ceritakanlah ceritamu, bagaimana kau bisa berada disini dan apakah kau...
intinya ceritakanlah apa saja, sambil kita berjalan.” Ucapnya penasaran.
“Ya...
sepertinya aku ingat apa yang terjadi tadi. Jadi saat pulang dari kantor, kira-kira
jam 11 malam. Aku melewati sebuah gang yang kecil dan sangat gelap. Aku sangat
takut melewati gang ini karna banyak gosip yang beredar bahwa disana sering ada
pembunuh berantai yang menunggu di tengah gang tersebut.”
“Sepertinya
saat itu kau lagi terkena sial.” Imbasnya.
“Iya,
Saat aku sedang melintasi gang itu, aku melihat sepasang mata merah, lalu aku
terdiam dan dia pun mendekat kepadaku. Aku berlari menjauh sekencang-kencangnya, tapi usahaku hanya sia-sia, Dia
menembakku dengan pistolnya tepat di kakiku sehingga aku terjatuh dan tidak
bisa berdiri. Lalu dia mengeluarkan pisaunya, aku melihat dia menarik
tangannya, aku sangat takut dan menutup mataku. Selanjutnya aku lupa apa lagi
yang terjadi, yang aku ingat hanya terbangun di tempat hampa tadi.”
“Hmm..
sungguh sedih ceritamu, Aku turut bersedih. Tapi jika kau mau mengubah hidupmu,
mungkin Aku akan memberi kesempatan kedua.”
“Benarkah
itu?!” Aku tersontak kaget.
“Ya,
jika kau mau mengubah hidupmu menjadi lebih baik lagi.” Ucapnya sambil
tersenyum.
“Baiklah,
aku berjanji akan mengubah hidupku lebih baik lagi.”
“Hahahah
baiklah.” Sang dewa tertawa
“Jadi,
apakah aku akan mendapatkan kesempatan kedua?” tanyaku penasaran.
Ia tidak
menjawabnya. Ia hanya tersenyum. Lalu kita sampai di suatu tempat. Dimana ada
suatu lobang, seperti Portal, ya menurutku itu menang Portal. Dia menyuruhku
untuk masuk kesana.
“Sampailah
kita. Sekarang, kau hanya harus masuk ke dalam sana.” Perintah sang dewa.
“Tapi
apa yang akan terjadi disana?” tanyaku kebingungan
“Kelak
kau akan tau, untuk saat ini, kau hanya perlu masuk kesana.”
***
Lalu aku masuk kedalam, dan semua
menjadi gelap, aku tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, aku terbangun
di dunia nyata dan aku melihat pembunuh tadi tergeletak tanpa nyawa di
sebelahku. Dan aku melihat ada seseorang berdiri di depanku. Dia memegang
senapan, ternyata dialah yang menyelamatkan nyawaku. aku tidak tau itu siapa,
saat aku hendak memanggilnya, dia pergi. Lalu aku kembali tak sadarkan diri
karena kakiku yang tertembak, aku kehabisan darah, untungnya pria tadi menelpon
ambulans dan bantuan segera datang.
Aku terbangun di rumah sakit, dan
aku melihat suamiku sedang duduk disampingku. Kaki kiriku terpaksa harus di
amputasi karena sudah terinfeksi oleh peluru tersebut yang dicampur racun. Akhirnya
aku menerima harus hidup tanpa satu kaki, meskipun begitu aku tetap bersyukur
karena aku masih diberi kesempatan kedua oleh sang dewa.
Semenjak kejadian hari itu
hidupku berubah, hidupku benar-benar berubah drastis. Aku menjadi suatu sosok
yang berbeda, yang dulunya sering minum alkohol, merokok, bahkan melakukan seks
bebas. Kubuang semuanya! dan juga walaupun hidup hanya dengan satu kaki aku
tetap semangat dalam menjalani hidup. Aku benar-benar bersyukur. Terima kasih,
sudah memberiku kesempatan kedua.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar