Sabtu, 29 Oktober 2016

ALPHA & OMEGA


Alfa dan Omega
Oleh : KristianW

                Ravena dan Viena. Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang sangat dekat. Mereka sudah menjadi sahabat sejak kecil, tepatnya sejak duduk di bangku TK. Sebenarnya mereka bertiga, namun salah satunya yang bernama Grace terpaksa harus meninggalkan mereka sejak kelas 1 SMP karena Grace terkena penyakit kanker hati. Awalnya Ravena dan Viena tidak bisa menerima kematian Grace. Namun lama-kelamaan mereka mulai bisa menerima dan kembali melanjutkan kehidupannya seperti biasa.
            Sekarang mereka sudah kelas 2 SMA. Sudah lima tahun semenjak kematian Grace. Ravena dan Viena terus bersama-sama dan juga bersekolah di tempat yang sama. Yaitu di Alpha Omega School yang terkenal dengan murid-muridnya yang pintar-pintar. Termasuk Ravena, ia adalah seseorang yang sangat pintar dan berprestasi. Dan juga Ravena selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Berbeda dengan Ravena, Viena adalah murid terbawah di peringkat kelasnya. Namun ia selalu dapat naik kelas karena ia dibantu mati-matian oleh Ravena. Untungnya Viena masih memiliki niat untuk belajar sehingga ia tetap bisa mengikuti pelajaran dan semakin tahun semakin meningkat.
            Alpha Omega School. Sekolah yang sangat bagus tetapi sekolah ini juga terkenal dengan angkernya. Cukup mengerikan memang, sudah cukup banyak cerita-cerita yang menjadi legenda di sekolah ini. Dimulai dari kejadian boneka 17 tahun yang lalu, dengar-dengar ini adalah awal dari semuanya. Lalu kejadian siswi yang bunuh diri setelah ujian nasional, lalu sebuah ruangan di lantai empat yang tidak pernah dibuka, dan masih banyak lagi.
***
13 November 2016. Hari yang cukup cerah, namun agak mendung. Saat ini Ravena dan Viena sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru fisikanya.
            “Wei Rav ayo dong nomor 9 gimana nih...” .
            “Bawel lu Vi, lu juga bantu dong! Susah nih.”
            “Iya deh... gue bantu. Bantu doa ahahahahah.”
            “Yee parasit dasar. Bisanya nyalin doang.”
            “Heh ini tuh namanya manajemen. Pernah denger kan lu di ekonomi?”
            “Oh.. manajemen ya. Jadi lu manajernya, gua karyawan gitu?”
            “Hehehe. Yaudah sih Rav, nanti kan misalnya gua abis nyalin punya lu nanti gue pelajarin. Lu mau kan gue jadi pinter.”
            “Yaudahlah. Tapi masalahnya ini soalnya ada 50. Kejam emang nih gurunya, ngasih tugas ga kira-kira. Mana sebentar lagi udah bel pulang.”
            “Ya kita lanjut terus aja Rav. Selesaikan hari ini juga! Gue males soalnya kalo udah dirumah. Enaknya dirumah tuh tidur, tidur, dan tidur.”
            Lalu mereka terus mengerjakan tugas itu meskipun bel pulang sudah berbunyi. Akhirnya setelah bersoal-soal mereka lalui. Mereka pun menyelesaikannya, dan bersiap-siap untuk pulang.
            Ketika mereka sudah sampai di lantai dasar. Tiba-tiba hujan turun dan tanpa gerimis hujan itu mendadak menjadi deras. Sangat deras sehingga mereka tidak bisa pulang kerumahnya masing-masing. Akhirnya mereka kembali ke kelas mereka yang berada di lantai empat sambil menunggu hujannya reda.
***
            18:30. Dua jam menunggu di kelas. Dan hujannya belum berhenti. Sekolah yang tadinya masih ramai sekarang menjadi sepi, karena banyak yang dijemput oleh kendaraan. Sedangkan Ravena dan Viena, mereka pergi ke sekolah dengan jalan kaki karena rumah mereka berdua kebetulan tidak terlalu jauh dengan sekolah sehingga masih dapat dijangkau melalui jalan kaki. Lalu mereka pun tetap menunggu walaupun hari sudah mulai gelap.
            Sambil menunggu di kelas, karena bosan hanya diam-diam dan tidur saja, akhirnya mereka pun berbincang-bincang.
            “Eh Rav, daripada kita diem-dieman gini. Mending kita cerita yang serem serem. Kan pas nih situasinya ujan ujan. Beh, seru dah.”
            “Ah gila lu Vi. Ujan gini, gelap lagi. Yakin lu?”
            “Gapapalah. Justru gelap gini malah lebih seru.”
            “Oh yauda, serah lu deh Vi. Gue bosen juga sih...”
            “Jadi gini Rav, gue diceritain kakak kelas ini. Jadi konon katanya dulu di sekolah kita ini ada suatu kejadian horror.”
            “Kaya gimana horrornya Vi? Jadi penasaran gue..”
            “Jadi dulu, sekitar 17 tahun yang lalu. Iya kita blom lahir. Dulu ada sekumpulan anak yang nyoba nyoba main petak umpet sama boneka gitu. Bahaya banget kan itu, tapi mereka tetep lakuin itu. Dan akhirnya. Ya, semua anak itu tiba-tiba ilang secara misterius. Gue gatau deh kemana. Tapi banyak yang bilang katanya mereka dibunuh satu-satu sama bonekanya.”
            “Ah itu kok bisa ilang... emang gada saksi mata sama sekali apa? Eh Vi ngomong-ngomong kok perasaan gue jadi gaenak ya. Serasa kita ga cuma berdua.”
            “Ya ada sih saksi mata. Cuma katanya dia jadi gila gitu terus satu tahun kemudian dia bunuh diri di kamarnya sendiri.”
            “Sadis... Eh Vi beneran deh emang lo ga ngerasa apa kita ga cuma berdua?
            “Gak kok Rav, ah lu aneh-aneh aja. Tadikan gue cuma cerita. Tapi gw juga ga bener bener percaya amat sama gitu gituan. Ya seru seruan aja...”
            BRAK! Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting dari luar kelas.
            “Tuhkan Vi!! Astagaaa, sumpah gue takut ini.”
            “Yaudah sih Rav, kita disini aja dulu. Aman kan, nanti kalo ujannya udah berenti baru deh kita langsung lari kebawah.”
            “Ah yaudah deh, mana nanti pas turun tangga lewat ruangan ‘itu’ lagi.”
            “Bener juga, yaudah slow aja Rav. Nanti kita lari aja dari sini. Sekarang gua mau nonton Youtube dulu dah sambil nungguin ujan.”
            “Yaudah, gua tiduran aja. Biar ngilangin rasa takut gue. Sialan lo Vi gara-gara lo nih gue jadi takut.”
            Akhirnya mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing sambil menunggu hujan reda. Menunggu dan menunggu. Akhirnya sekitar jam tujuh malam hujannya reda. Dan mereka bersiap-siap untuk pulang.
            “Eh Vi, nanti lo yang keluar kelas duluan ya.”
            “Siap dahh, ayo sekarang keluar Rav. Sebelum hujannya datang lagi.”
            “Oke.”
            Viena pun membuka pintu kelas. Lalu dia menengok ke kiri dan kanan. Dan ternyata aman. Wajah Ravena terlihat sangat ketakutan. Mungkin karena mendengar suara pintu tadi. Akhirnya setelah Viena melihat keadaan diluar, dengan cepat ia langsung lari sekencang-kencangnya. Mungkin karena ia juga merasa takut. Ravena pun mengikutinya dari belakang.
            “WOI VIVI! TUNGGUIN DONG!” Ucap Ravena karena susah mengejar Viena. Lalu Viena pun mengurangi kecepatannya.
            Akhirnya mereka berlari terus. Dan ketika mereka melewati ruangan ‘itu’, ternyata tidak ada apa-apa. Lalu mereka lanjut menuruni tangga. Cukup melelahkan karena ini empat lantai. Ketika sampai dibawah mereka memutuskan untuk istirahat sebentar.
            “VI! Stop duluu. Gue capek banget gila.”
            “Cepetan dong Rav. Dikit lagi nih...”
            “Emangnya kenapa lo bilang lo ga takut?”
            “Oke, Rav. Gue mau jujur. Sebenernya dari tadi gue juga ngerasain kalo kita tuh ga cuma berdua. Cuma gue berusaha buat biasa aja biar gue ga takut. Tapi lama-kelamaan gue malah makin kerasa. Terus juga tadi kan kita lewat ruangan itu, dan gw liat di kacanya. Ada sosok cewe dibelakang lo Rav!!”
            “ASTAGA! KENAPA GA BILANG DARITADI!!! YAUDA AYO LARI.” Seru Ravena.
            Mereka pun lanjut berlari.
            “RAVENA! Sumpah jangan nengok ke belakang! Gue ngerasa ada yang ngikutin anjir.” Ucap Viena sambil berlari. Kali ini malah Viena yang ketakutan. Padahal tadinya dialah yang paling berani dengan hal-hal seperti itu.
            “Oke Vi! Tapi kok ini kenapa koridornya serasa panjang banget ya?! Padahal itu gerbang udah keliatan. Tapi bukannya makin deket malah makin jauh..” Ucap Ravena kebingungan.
            “Yauda kita lari aja terus! YANG PENTING JANGAN NENGOK BELAKANG!” Kata Viena.
            Mereka terus berlari. Namun mereka bukannya semakin dekat menuju gerbang melainkan mereka semakin jauh. Mereka seperti berlari di treadmill. Berlari-lari tanpa adanya perpindahan.
            “VI! KAYANYA KITA UDAH GA DI DUNIA NYATA DEH.” Kata Ravena sambil teriak.
            Akhirnya karena penasaran Ravena pun menghentikan larinya dan menengok ke belakang.
            “VI....!!!!” Ravena pun tewas dibunuh oleh sosok perempuan yang tadi dilihat Viena.
            Awalnya Viena tidak sadar kalau Ravena sudah tidak ada. Namun lama-kelamaan ia menyadarinya.
            “RAV? RAV? JAWAB DONG!” Ucap Viena sambil terus berlari. Ia memanggil Ravena terus menerus namun tidak ada jawaban dari Ravena. Lalu Viena pun merasa ada yang janggal dengan Ravena. Akhirnya Ia pun dengan penuh keberanian menghentikan larinya.
            Dan ketika Viena menengok ke belakang... Ia melihat jasad Ravena sudah meninggal. Jasad Ravena tidak berada jauh, karena sebenarnya mereka berlari tanpa adanya perpindahan sama sekali. Lalu Viena mendekati jasad Ravena.
            “RAV!!! SADAR RAV! INI GA MUNGKIN.” Ucap Viena sambil menangis.
“Maafin gue Rav, kalo selama ini gua suka nyusahin lu, kalo selama ini gue cuma jadi parasit, kalo gue suka gangguin lo pas belajar. Maaf banget....” Lanjut Viena dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Ia pun kemudian memeluk jasad Ravena sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyesal karena telah meremehkan hal-hal berbau mistis yang padahal benar adanya.
“Kalo begini caranya, lebih baik gue bunuh diri... abis udah hidup gue. Maafin aku ya mama dan papa.” Tutur Viena sambil menghapus air matanya.
“Kamu gak perlu bunuh diri kok.” Sahut seseorang di belakang Viena. Lalu Viena menengok ke belakang dan...
“ARGHHHHHHHH!!!”
..............................................................
Mereka pun meninggal dengan posisi berpelukan. Sungguh sahabat sejati.
***
            Semenjak hari itu sekolah mereka semakin dikenal angkernya. Dan masyarakat sekolah juga menjadi ketakutan, karena kejadian ini mengingatkan kepada kejadian 17 tahun yang lalu. Karena lagi-lagi jasad Ravena dan Viena tidak ditemukan sama sekali. Bahkan banyak saksi yang berkata bahwa mereka berdua sudah keluar dari sekolah sejak bel pulang yaitu jam tiga sore.
Namun kepala sekolah memberi himbauan agar rakyat sekolah itu tidak panik dan tetap dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan normal.
Alfa dan Omega. Seperti artinya dalam bahasa aslinya yaitu yang terawal dan yang terakhir. Sudah 10 tahun sejak kejadian Ravena dan Viena, dan tidak ada lagi kejadian-kejadian aneh di sekolah itu. Sungguh suatu kebetulan...
Berawal dari insiden boneka, dan berakhir dengan kejadian Ravena dan Viena.
***
            ...
            ...
Ha... Ha... Ha... Akhirnya kita bertiga bisa bersama-sama lagi....
-TAMAT-

Credit : Teddy Bear (ZRH/Jappy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar