Sabtu, 29 Oktober 2016

ALPHA & OMEGA


Alfa dan Omega
Oleh : KristianW

                Ravena dan Viena. Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang sangat dekat. Mereka sudah menjadi sahabat sejak kecil, tepatnya sejak duduk di bangku TK. Sebenarnya mereka bertiga, namun salah satunya yang bernama Grace terpaksa harus meninggalkan mereka sejak kelas 1 SMP karena Grace terkena penyakit kanker hati. Awalnya Ravena dan Viena tidak bisa menerima kematian Grace. Namun lama-kelamaan mereka mulai bisa menerima dan kembali melanjutkan kehidupannya seperti biasa.
            Sekarang mereka sudah kelas 2 SMA. Sudah lima tahun semenjak kematian Grace. Ravena dan Viena terus bersama-sama dan juga bersekolah di tempat yang sama. Yaitu di Alpha Omega School yang terkenal dengan murid-muridnya yang pintar-pintar. Termasuk Ravena, ia adalah seseorang yang sangat pintar dan berprestasi. Dan juga Ravena selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Berbeda dengan Ravena, Viena adalah murid terbawah di peringkat kelasnya. Namun ia selalu dapat naik kelas karena ia dibantu mati-matian oleh Ravena. Untungnya Viena masih memiliki niat untuk belajar sehingga ia tetap bisa mengikuti pelajaran dan semakin tahun semakin meningkat.
            Alpha Omega School. Sekolah yang sangat bagus tetapi sekolah ini juga terkenal dengan angkernya. Cukup mengerikan memang, sudah cukup banyak cerita-cerita yang menjadi legenda di sekolah ini. Dimulai dari kejadian boneka 17 tahun yang lalu, dengar-dengar ini adalah awal dari semuanya. Lalu kejadian siswi yang bunuh diri setelah ujian nasional, lalu sebuah ruangan di lantai empat yang tidak pernah dibuka, dan masih banyak lagi.
***
13 November 2016. Hari yang cukup cerah, namun agak mendung. Saat ini Ravena dan Viena sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru fisikanya.
            “Wei Rav ayo dong nomor 9 gimana nih...” .
            “Bawel lu Vi, lu juga bantu dong! Susah nih.”
            “Iya deh... gue bantu. Bantu doa ahahahahah.”
            “Yee parasit dasar. Bisanya nyalin doang.”
            “Heh ini tuh namanya manajemen. Pernah denger kan lu di ekonomi?”
            “Oh.. manajemen ya. Jadi lu manajernya, gua karyawan gitu?”
            “Hehehe. Yaudah sih Rav, nanti kan misalnya gua abis nyalin punya lu nanti gue pelajarin. Lu mau kan gue jadi pinter.”
            “Yaudahlah. Tapi masalahnya ini soalnya ada 50. Kejam emang nih gurunya, ngasih tugas ga kira-kira. Mana sebentar lagi udah bel pulang.”
            “Ya kita lanjut terus aja Rav. Selesaikan hari ini juga! Gue males soalnya kalo udah dirumah. Enaknya dirumah tuh tidur, tidur, dan tidur.”
            Lalu mereka terus mengerjakan tugas itu meskipun bel pulang sudah berbunyi. Akhirnya setelah bersoal-soal mereka lalui. Mereka pun menyelesaikannya, dan bersiap-siap untuk pulang.
            Ketika mereka sudah sampai di lantai dasar. Tiba-tiba hujan turun dan tanpa gerimis hujan itu mendadak menjadi deras. Sangat deras sehingga mereka tidak bisa pulang kerumahnya masing-masing. Akhirnya mereka kembali ke kelas mereka yang berada di lantai empat sambil menunggu hujannya reda.
***
            18:30. Dua jam menunggu di kelas. Dan hujannya belum berhenti. Sekolah yang tadinya masih ramai sekarang menjadi sepi, karena banyak yang dijemput oleh kendaraan. Sedangkan Ravena dan Viena, mereka pergi ke sekolah dengan jalan kaki karena rumah mereka berdua kebetulan tidak terlalu jauh dengan sekolah sehingga masih dapat dijangkau melalui jalan kaki. Lalu mereka pun tetap menunggu walaupun hari sudah mulai gelap.
            Sambil menunggu di kelas, karena bosan hanya diam-diam dan tidur saja, akhirnya mereka pun berbincang-bincang.
            “Eh Rav, daripada kita diem-dieman gini. Mending kita cerita yang serem serem. Kan pas nih situasinya ujan ujan. Beh, seru dah.”
            “Ah gila lu Vi. Ujan gini, gelap lagi. Yakin lu?”
            “Gapapalah. Justru gelap gini malah lebih seru.”
            “Oh yauda, serah lu deh Vi. Gue bosen juga sih...”
            “Jadi gini Rav, gue diceritain kakak kelas ini. Jadi konon katanya dulu di sekolah kita ini ada suatu kejadian horror.”
            “Kaya gimana horrornya Vi? Jadi penasaran gue..”
            “Jadi dulu, sekitar 17 tahun yang lalu. Iya kita blom lahir. Dulu ada sekumpulan anak yang nyoba nyoba main petak umpet sama boneka gitu. Bahaya banget kan itu, tapi mereka tetep lakuin itu. Dan akhirnya. Ya, semua anak itu tiba-tiba ilang secara misterius. Gue gatau deh kemana. Tapi banyak yang bilang katanya mereka dibunuh satu-satu sama bonekanya.”
            “Ah itu kok bisa ilang... emang gada saksi mata sama sekali apa? Eh Vi ngomong-ngomong kok perasaan gue jadi gaenak ya. Serasa kita ga cuma berdua.”
            “Ya ada sih saksi mata. Cuma katanya dia jadi gila gitu terus satu tahun kemudian dia bunuh diri di kamarnya sendiri.”
            “Sadis... Eh Vi beneran deh emang lo ga ngerasa apa kita ga cuma berdua?
            “Gak kok Rav, ah lu aneh-aneh aja. Tadikan gue cuma cerita. Tapi gw juga ga bener bener percaya amat sama gitu gituan. Ya seru seruan aja...”
            BRAK! Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting dari luar kelas.
            “Tuhkan Vi!! Astagaaa, sumpah gue takut ini.”
            “Yaudah sih Rav, kita disini aja dulu. Aman kan, nanti kalo ujannya udah berenti baru deh kita langsung lari kebawah.”
            “Ah yaudah deh, mana nanti pas turun tangga lewat ruangan ‘itu’ lagi.”
            “Bener juga, yaudah slow aja Rav. Nanti kita lari aja dari sini. Sekarang gua mau nonton Youtube dulu dah sambil nungguin ujan.”
            “Yaudah, gua tiduran aja. Biar ngilangin rasa takut gue. Sialan lo Vi gara-gara lo nih gue jadi takut.”
            Akhirnya mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing sambil menunggu hujan reda. Menunggu dan menunggu. Akhirnya sekitar jam tujuh malam hujannya reda. Dan mereka bersiap-siap untuk pulang.
            “Eh Vi, nanti lo yang keluar kelas duluan ya.”
            “Siap dahh, ayo sekarang keluar Rav. Sebelum hujannya datang lagi.”
            “Oke.”
            Viena pun membuka pintu kelas. Lalu dia menengok ke kiri dan kanan. Dan ternyata aman. Wajah Ravena terlihat sangat ketakutan. Mungkin karena mendengar suara pintu tadi. Akhirnya setelah Viena melihat keadaan diluar, dengan cepat ia langsung lari sekencang-kencangnya. Mungkin karena ia juga merasa takut. Ravena pun mengikutinya dari belakang.
            “WOI VIVI! TUNGGUIN DONG!” Ucap Ravena karena susah mengejar Viena. Lalu Viena pun mengurangi kecepatannya.
            Akhirnya mereka berlari terus. Dan ketika mereka melewati ruangan ‘itu’, ternyata tidak ada apa-apa. Lalu mereka lanjut menuruni tangga. Cukup melelahkan karena ini empat lantai. Ketika sampai dibawah mereka memutuskan untuk istirahat sebentar.
            “VI! Stop duluu. Gue capek banget gila.”
            “Cepetan dong Rav. Dikit lagi nih...”
            “Emangnya kenapa lo bilang lo ga takut?”
            “Oke, Rav. Gue mau jujur. Sebenernya dari tadi gue juga ngerasain kalo kita tuh ga cuma berdua. Cuma gue berusaha buat biasa aja biar gue ga takut. Tapi lama-kelamaan gue malah makin kerasa. Terus juga tadi kan kita lewat ruangan itu, dan gw liat di kacanya. Ada sosok cewe dibelakang lo Rav!!”
            “ASTAGA! KENAPA GA BILANG DARITADI!!! YAUDA AYO LARI.” Seru Ravena.
            Mereka pun lanjut berlari.
            “RAVENA! Sumpah jangan nengok ke belakang! Gue ngerasa ada yang ngikutin anjir.” Ucap Viena sambil berlari. Kali ini malah Viena yang ketakutan. Padahal tadinya dialah yang paling berani dengan hal-hal seperti itu.
            “Oke Vi! Tapi kok ini kenapa koridornya serasa panjang banget ya?! Padahal itu gerbang udah keliatan. Tapi bukannya makin deket malah makin jauh..” Ucap Ravena kebingungan.
            “Yauda kita lari aja terus! YANG PENTING JANGAN NENGOK BELAKANG!” Kata Viena.
            Mereka terus berlari. Namun mereka bukannya semakin dekat menuju gerbang melainkan mereka semakin jauh. Mereka seperti berlari di treadmill. Berlari-lari tanpa adanya perpindahan.
            “VI! KAYANYA KITA UDAH GA DI DUNIA NYATA DEH.” Kata Ravena sambil teriak.
            Akhirnya karena penasaran Ravena pun menghentikan larinya dan menengok ke belakang.
            “VI....!!!!” Ravena pun tewas dibunuh oleh sosok perempuan yang tadi dilihat Viena.
            Awalnya Viena tidak sadar kalau Ravena sudah tidak ada. Namun lama-kelamaan ia menyadarinya.
            “RAV? RAV? JAWAB DONG!” Ucap Viena sambil terus berlari. Ia memanggil Ravena terus menerus namun tidak ada jawaban dari Ravena. Lalu Viena pun merasa ada yang janggal dengan Ravena. Akhirnya Ia pun dengan penuh keberanian menghentikan larinya.
            Dan ketika Viena menengok ke belakang... Ia melihat jasad Ravena sudah meninggal. Jasad Ravena tidak berada jauh, karena sebenarnya mereka berlari tanpa adanya perpindahan sama sekali. Lalu Viena mendekati jasad Ravena.
            “RAV!!! SADAR RAV! INI GA MUNGKIN.” Ucap Viena sambil menangis.
“Maafin gue Rav, kalo selama ini gua suka nyusahin lu, kalo selama ini gue cuma jadi parasit, kalo gue suka gangguin lo pas belajar. Maaf banget....” Lanjut Viena dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Ia pun kemudian memeluk jasad Ravena sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyesal karena telah meremehkan hal-hal berbau mistis yang padahal benar adanya.
“Kalo begini caranya, lebih baik gue bunuh diri... abis udah hidup gue. Maafin aku ya mama dan papa.” Tutur Viena sambil menghapus air matanya.
“Kamu gak perlu bunuh diri kok.” Sahut seseorang di belakang Viena. Lalu Viena menengok ke belakang dan...
“ARGHHHHHHHH!!!”
..............................................................
Mereka pun meninggal dengan posisi berpelukan. Sungguh sahabat sejati.
***
            Semenjak hari itu sekolah mereka semakin dikenal angkernya. Dan masyarakat sekolah juga menjadi ketakutan, karena kejadian ini mengingatkan kepada kejadian 17 tahun yang lalu. Karena lagi-lagi jasad Ravena dan Viena tidak ditemukan sama sekali. Bahkan banyak saksi yang berkata bahwa mereka berdua sudah keluar dari sekolah sejak bel pulang yaitu jam tiga sore.
Namun kepala sekolah memberi himbauan agar rakyat sekolah itu tidak panik dan tetap dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan normal.
Alfa dan Omega. Seperti artinya dalam bahasa aslinya yaitu yang terawal dan yang terakhir. Sudah 10 tahun sejak kejadian Ravena dan Viena, dan tidak ada lagi kejadian-kejadian aneh di sekolah itu. Sungguh suatu kebetulan...
Berawal dari insiden boneka, dan berakhir dengan kejadian Ravena dan Viena.
***
            ...
            ...
Ha... Ha... Ha... Akhirnya kita bertiga bisa bersama-sama lagi....
-TAMAT-

Credit : Teddy Bear (ZRH/Jappy)

Rabu, 19 Oktober 2016

PERJALANAN TAK TERDUGA

Restricted.

SCHIZOPHRENIA


Skizofrenia
Oleh : KristianW

            “Aku tidak gila! Aku tidak membunuhnya, bukan aku yang membunuhnya!” ungkap seorang pasien di Rumah Sakit Jiwa Magnefield, yang bernama Matthew Rolas.
***
Namaku adalah Thomas Walter. Aku adalah seorang detektif. Yang sering memecahkan kasus-kasus misterius. Berbagai kasus pembunuhan, penculikan, pencurian dan masih banyak lagi, sudah kutangani hingga tuntas. Aku juga memiliki istri yang bernama Janice Watson. Namun istriku meninggal karena dibunuh oleh seorang pembunuh yang sangat keji bernama Matthew Rolas. Meskipun pembunuh itu dihukum penjara tapi aku tetap memiliki dendam kepadanya.
Disamping itu, untuk pekerjaan aku ditemani oleh rekanku yang bernama Dean Marquez. Ia adalah seorang rekan yang sangat cocok denganku, kami sering bercanda gurau dan tertawa bersama. Sungguh rekan terbaik yang pernah kutemui. Kami berdua bekerja sendiri alias independen. Tapi meskipun tanpa topangan kami tetap memiliki banyak pelanggan. Setiap bulan pasti ada orang yang datang kepada kami untuk meminta bantuan untuk masalahnya. Dan juga kami biasa menyebut diri kami sebagai ‘The Riddler’.  Hingga akhirnya ada kasus yang agak berbeda kali ini.
            Saat ini kami sedang dalam kasus yang berada di rumah sakit jiwa. Rumah sakit ini bertempat di suatu pulau terpencil namun pulau ini sangat indah dan sejuk. Ngomong-ngomong aku juga menerima kasus ini karena aku mengetahui bahwa Matthew dipindahkan ke sini dari penjaranya. Sesampainya di rumah sakit tersebut, aku langsung disambut hangat oleh kepala rumah sakit itu.
            “Selamat datang di Rumah Sakit Jiwa Magnefield. Detektif Thomas.” Sambut sang kepala rumah sakit
            “Ya, Terima kasih sudah mengundang kami, pak.” Balasku
            “Sama-sama, Detektif Thomas. Ngomong-ngomong, namaku adalah Dr. Wells”
            “Baiklah. Jadi masalah apa yang sedang kita hadapi sekarang ini?” tanyaku
            “Begini, jadi salah satu pasien kami yang bernama Jane Wainscot melarikan diri dari sini kemarin.” Ungkapnya
            “Apakah ada petunjuk? Atau informasi lainnya tentang pelarian dia?” ujarku
            “Yang kami tahu hanya bahwa dia melarikan diri kemarin malam pukul 23.45.” Jelasnya
            “Bagaimana jika kita melihat kamarnya?” tanyaku kepada Dr. Wells
            “Oh iya, silahkan. Aku dan beberapa perawat akan mengantarkanmu kesana” balas Dr. Wells
            Akhirnya sang kepala rumah sakit mengantarkan kami ke kamar Jane. Lalu aku masuk dan melihat kedalamnya. Didalam kami tidak menemukan apapun, kecuali secarik kertas yang berada di kolong ranjangnya. Kertas itu bertuliskan ‘Siapakah yang ke-53?’
            “Apa maksudnya ini? 53?” tanyaku kebingungan
            “Siapakah yang ke 53.... Sial, andai aku mengerti.” Seru Dean
            “Apakah mungkin ini tidak ada artinya?” tanyaku
            “Tidak. Nyonya Wainscot sangat pintar dan cerdas. Tidak mungkin dia meninggalkan sesuatu tanpa arti. Kertas ini akan menjadi sangat penting” Jelas Dr. Wells sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas itu, tapi kutolak.
            “Maaf tapi kami perlu ini untuk dijadikan pegangan.” Ucapku
            “Oh tentu saja.” Balasnya sambil menarik tangannya
            Setelah itu kami keluar dari sana dan Dr. Wells memutuskan untuk mengumpulkan semua perawat rumah sakit untuk mendapatkan informasi tentang pelarian Jane. Tapi yang ia lakukan hanya sia-sia. Tidak ada petunjuk pasti dari pelariannya Jane. Akhirnya kami tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi karena sudah larut malam kami pun memutuskan untuk menginap disini. Kami akan tetap disini sampai masalah ini selesai hingga tuntas.
            Ketika di kamar, aku berbincang-bincang dengan Dean.
            “Hey Dean, kau masih belum terpikir arti dari angka 53 itu?” tanyaku kepada Dean
            “Menurut pemikiranku, 53 itu adalah suatu jumlah. Jumlah total pasien di rumah sakit ini. Tapi aku tidak mengerti dengan jelas. Ini adalah suatu teka-teki yang cukup sulit. Tutur Dean
            “Ya, aku setuju. Untuk lebih jelasnya, kita harus menemukan dia! Bagaimana kalau besok pagi kita menelusuri pulau ini dan mencari Jane?” ucapku
            “Baiklah. Aku ikut, bos.” balasnya
***
             Pagi telah tiba. Sungguh pagi yang sangat cerah. Beberapa saat setelah mandi dan sarapan, aku dan Dean langsung berjalan keluar penginapan untuk menelusuri pulau ini. Pulau ini cukup besar untuk ditelusuri, namun tetap mungkin kami telusuri dengan jalan kaki. Kami sudah mencari ke hutan, tidak ada apa-apa. Setelah itu kami pergi ke tepi pulau ini, dan kami melihat sebuah mercusuar yang sangat besar dan tinggi. Aku penasaran apa yang ada disana, tidak mungkin itu hanyalah bangunan yang kosong. Aku yakin pasti ada sesuatu didalam sana. Sesaat setelah aku mengamati mercusuar tersebut, Dean memanggilku dan menyuruhku untuk melihat sesuatu. Aku langsung melihatnya dan yang kulihat adalah sebuah jasad manusia yang mungkin terjatuh dari tebing ini dan... Apakah itu Jane Wainscot?!? Ya aku yakin itu adalah jasad Jane Wainscot. Lalu aku dan Dean memutuskan untuk menuruni tebing ini, dan menghampiri jasad itu. Untuk mengecek apakah ini benar Jane atau bukan.
            Setelah kami menuruninya, ternyata tidak ada apa-apa. Ini hanyalah sebuah corak pada karang yang terlihat seperti manusia. Apa-apaan ini! Dari atas kulihat sangat jelas bahwa ini adalah manusia. Terbuanglah usahaku dengan sia-sia.
            Lalu seketika datang segerombolan tikus yang berasal dari lubang-lubang di tebing. Menjijikan! Aku tidak mengerti mengapa bisa ada tikus sebanyak ini. Lalu aku melihat sebuah gua dan akhirnya kami dengan cepat masuk kesana karena jijik dengan tikus-tikus ini. Dan ketika di luar gua aku melihat ada bayangan api unggun. Itu berarti ada orang di dalam gua ini. Ketika aku masuk dengan perlahan-lahan, langkah demi langkah kulalui hingga kedalam. Tiba-tiba ada seorang wanita tua menodong pisau kearahku.
            “Siapa kalian?!” tanya wanita tua itu sambil menodong pisau
            “Kami adalah detektif, nyonya. Kami tidaklah jahat.” Jelasku
            “Oh, baiklah kalau begitu” katanya sambil menurunkan pisaunya
            “Apakah kau Jane Wainscot?” tanyaku
            “Ya, mengapa?” balasnya
            “Oh, syukurlah kau masih hidup. Mengapa kau melarikan diri dari Magnefield, nyonya?” tanyaku penasaran
            “Karena sebenarnya aku bukanlah pasien!” serunya dengan nada tinggi
            “Kau... perawat?” tanyaku kebingungan
            “Ya aku adalah perawat. Kau pikir aku ini gila??” ucap Jane
            “Tidak, aku...” belum selesai aku berbicara ia melanjutkan kata-katanya
            “Dan jika aku bilang bahwa aku tidak gila. Itu tidak membantu bukan? Tidak ada yang percaya denganku. Sekali dinyatakan gila, maka semua hal yang kita lakukan adalah bagian dari kegilaan itu.” Jelasnya
            “Memangnya apa salahmu sehingga kau dinyatakan gila orang-orang?” tanyaku
            “Rumah sakit ini bukanlah rumah sakit yang biasa. Mereka tidak hanya merawat orang-orang yang gila, mereka juga memiliki tujuan lain disini. Kau pernah dengar Neuroleptics?” tanya Jane
“Apa itu? Aku tidak pernah dengar itu.” Jawabku
 “Itu adalah program cuci otak. Mereka memasang helm dengan alat kejut listrik di kepala korban dan menusuk suntik ke bola mata pasien. Itu sangatlah gila! Bayangkan. Jarum, ke dalam mata! Itu adalah perbuatan yang sangat biadab. Dan itu membuat pasien kehilangan kesadarannya. Mereka jadi dapat mengontrol pasien. Itulah yang mereka lakukan disini. Lalu ketika aku mengetahui semua ini, mereka menjadikanku pasien dan aku hanya tinggal menunggu waktuku untuk di ujicoba.” Tutur Jane
“APA?! Itukah yang mereka lakukan?? Ini sudah diluar batas kemanusiaan. Aku tidak bisa tinggal diam saja.” Ucapku keheranan
“Ya, mereka melakukan itu semua. Apakah kau melihat sebuah mercusuar besar saat menuju kesini?” tanya Jane
            “Aku melihatnya! Dan aku bertanya-tanya apa kira-kira apa isi dari mercusuar itu.” Jawabku
            “Disanalah mereka melakukannya, Neuroleptics. Mereka melakukan itu tepat di mercusuar.” Tutur Jane
            “Oke kalau begitu kami akan bergerak cepat. Besok pagi kami akan pergi ke mercusuar dan kami akan mengungkapkan kebenaran.” Ucapku dengan semangat
            “Terima kasih detektif sudah mau membantuku untuk memberantas masalah ini. Kalian adalah pahlawan kami.” Ucap Jane
            “Baiklah, pertanyaan terakhir, nyonya. Apakah anda mengenal atau memiliki informasi tentang Matthew Rolas?” tanyaku
            “Matthew Rolas... aku pernah mendengar namanya. Dia adalah pasien terakhir yang masuk ke Magnefield. Menurut informasi yang beredar dia dimasukkan kesini karena dia menyangkal pembunuhan yang dia lakukan. Sehingga pihak penjara memindahkannya kesini.” Kata Jane
            “Hm.. terima kasih atas informasinya nyonya. Sangat membantu.” Ucapku
            “Tidak apa-apa. Senang membantu.” Balas Jane
            Ternyata perbincangan kita yang lumayan mencengangkan membuat waktu tidak menjadi terasa. Sekarang hari sudah malam. Tidak mungkin aku akan kembali, jadi aku dan Dean tinggal di gua ini untuk semalam. Tentang mercusuar mungkin aku tidak benar-benar ingin mencegah para penjahat disana. Tapi aku ingin mencari seseorang yang bernama Matthew Rolas. Aku ingin membalaskan dendam istriku yang sudah dia bunuh secara keji. Sementara Jane sedang tidur, aku mengobrol dengan Dean.
            “Hey Dean, bagaimana menurutmu tentang mercusuar itu?” tanyaku
            “Menurutku apa yang terjadi disana sangat kejam. Kupikir mereka akan membuat suatu pasukan, ya, karena mereka mencuci otak pasien-pasien yang ada disini. Apalagi yang bisa terjadi dengan cuci otak massal selain membuat pasukan? Aku yakin itu.” Tutur Dean
            “Ya aku setuju denganmu. Tapi selain itu aku ada tujuan lain juga pergi ke mercusuar” balasku
            “Apa itu, bos?” tanya Dean
            “Sebenarnya aku juga ingin mencari Matthew Rolas.” Jawabku
            “Oh iya bicara tentang Matthew Rolas. Dia itu siapa?” tanya Dean lagi
            “Matthew Rolas adalah seorang pembunuh. Dialah yang membunuh istriku. Malam itu, aku ingat dia melakukannya tengah malam dirumah kami. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kami tepat jam 12 malam. Saat itu istriku yang membukakan, aku tetap di kamar. Lalu tiba-tiba... DORR! Lalu aku tersontak kaget dan langsung menuju kebawah untuk melihat apa yang terjadi. Ketika aku sampai dibawah, aku mendapati istriku sudah tidak bernyawa. Pembunuh itu masih terlihat dimataku saat itu. Langsung aku lari dan mengejarnya, namun aku tidak bisa menangkapnya. Tapi tidak lama kemudian bantuan datang yaitu polisi. Akhirnya dia berhasil ditangkap dan dibawa ke kantor polisi terdekat. Dan ketika ditanya alasan dia melakukan itu, kau tahu jawabannya?” ucapku
            “Apa itu, bos?” sahut Dean
            “Dia menjawab bahwa ia membunuh istriku karena istriku pernah menolak cintanya ketika masih duduk di bangku sekolah. Jadi ia menyimpan dendam dan ia membalaskan dendamnya pada malam itu. Aku benar-benar tidak bisa menerima kematiannya, jadi aku akan mencarinya besok di mercusuar dan aku akan membunuhnya!” seruku
            “Aku turut bersedih, bos. Orang seperti itu sangat tidak masuk akal. Dia membunuh seseorang hanya karena ditolak cintanya?! Sungguh suatu kebodohan. Baiklah bos, untuk sekarang mari kita istirahat dan besok kita akan pergi ke mercusuar dan kita akan menemukan orang itu.” Tutur Dean
            “Baiklah Dean, terima kasih sudah senantiasa menemaniku hingga kita sampai disini. Kau benar-benar rekan terbaik.” Balasku
***
            Pagi telah tiba. Inilah saatnya aku memberantas kejahatan di rumah sakit ini dan sekaligus mencari Matthew Rolas. Aku akan membunuhnya kali ini dan membalaskan dendam istriku. Pertama aku kembali ke Magnefield untuk mengambil perlengkapan detektifku. Untungnya aku membawa pistol kesini, jadi itu cukup untuk membunuhnya dengan cepat. Aku tidak peduli apa yang terjadi setelah aku membunuhnya. Yang penting dia mati, dan dendam istriku terbalaskan! Setelah aku mengambil perlengkapanku, langsung aku berangkat bersama Dean menuju ke mercusuar. Disitulah tempat terjadinya program cuci otak itu. Jadi aku memiliki dua misi. Mengungkap kebenaran sekaligus membalaskan dendam. Sungguh ironi, Hahahaha.
            Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, kami akhirnya sampai di mercusuar. Dengan hati-hati kami masuk kedalam. Ternyata jika dilihat dari dekat mercusuar ini cukup tinggi. Setelah didalam kami menyiapkan pistol kami untuk bersiap-siap. Kami menaiki tangganya. Setiap satu lantai terdapat ruangan, kami buka satu persatu ruangan tersebut. Tapi yang kami dapati hanyalah ruangan yang kosong. Akhirnya kami sampai ke puncak. Ini adalah ruangan yang terakhir. Tidak mungkin ruangan ini kosong lagi. Dengan perlahan kami mendekati pintu. Langkah demi langkah kami lalui. Sampai ke depan pintu. Dan akhirnya kubuka! Benar ruangan ini tidaklah kosong.
            “Halo, Detektif.” Sapa Dr.Wells
            “Hahahahah. Ketahuan kau Dr.Wells. Aku tahu apa yang akan kau lakukan sekarang ini. Tidak usah menyangkal lagi.” Balasku
            “Tolong...” ucap Dr.Wells dengan nada lembut
            “Tidak usah menyangkal lagi! Kau akan melakukan program itu, kan?! Kau akan mencuci otak kami semua dan membuat pasukan.” Balasku lagi
            “Kami tidak pernah melakukan itu, Matth.” Balasnya
            “Mengapa kau selalu berbohong? Jelas-jelas aku mendapat informasi langsung dari mantan pegawaimu. Jane Wainscot, kami menemukannya! Dan ia menceritakan semuanya. Neuroleptics, Hah?!” ucapku dengan emosi semakin meluap
            “Kapan kau bertemu dia?” tanya Dr.Wells
            “Kemarin sore, di gua. Dia menceritakan semuanya. Dan kau tidak akan menemukannya.” Balasku
            “Ya.. aku tidak meragukan itu. Dengan pertimbangan dia tidaklah nyata. Tapi halusinasimu semakin parah.” Jelas Dr.Wells
            “Dan juga sejak pagi tadi ini tanganku terus bergetar. Apakah kau juga akan melakukannya kepadaku?? kau juga ingin menjadikanku salah satu dari pasukan yang kau buat??”
            “Kau tidak sedang dalam Neuroleptics. Kau tidak dalam pengaruh apapun itu yang sebenarnya.” Jelas Dr.Wells
            “Lalu apa-apaan ini? Hah?! Mengapa tanganku terus bergetar dan semakin parah??” kataku dengan emosi semakin meluap
            “Efek samping.” Balasnya singkat
            “Efek samping?! Aku bahkan tidak pernah minum apapun sejak sampai disini.” Balasku
            “Ya. Zogpromazine.” Balasnya singkat lagi
            “Zog.. Zogpro.. Zogpro apa?” kataku kebingungan
            “Zogpromazine. Hal sama yang kami berikan kepadamu selama dua tahun terakhir.” Jelas Dr.Wells
            “Apa?! Jadi kau sudah mempergunakan seseorang selama dua tahun terakhir. Memberiku obat di New York, Hah?!” balasku
            “Tidak, tidak di New York. Tapi disini, di Magnefield. Kau adalah pasien terakhir yang masuk ke Magnefield. Kau adalah pasien ke-53.” Ucap Dr.Wells
            “Tidak mungkin!! Aku adalah detektif! Dan kau tidak bisa menyangkalnya. Karena aku memang detektif. Kau bisa tanya kepada Dean rekanku untuk memberi bukti.” Jawabku
            “Matthew.. kau tidak pernah mempunyai rekan. Itu semua hanyalah halusinasi semata. Jane Wainscot, Dean? Mereka tidaklah nyata. Begini, kita coba cara lain. Thomas Walter-Matthew Rolas, kedua nama itu sama-sama memiliki 12 huruf. Itu adalah nama yang saling berhubungan. Dan juga nama istrimu Janice Watson, benar?” ucap Dr.Wells
            “Jangan membawa-bawa istriku!” seruku
            “Janice Watson-Jane Wainscot. Setiap nama saling berhubungan. Dan kau ingin mengungkap kebenaran? Baiklah, namamu adalah Matthew Rolas. Pasien ke-53 di Magnefield adalah kau, Matthew.” Jelas Dr.Wells
            “Omong Kosong..” kataku tidak percaya
            “Kau dirawat disini atas perintah pengadilan dua tahun yang lalu. Kejahatanmu sangat keji. Dan kau tidak menyesalinya. Jadi kau menciptakan pribadi yang lain untuk menutupi kejahatanmu itu. Dan menciptakan cerita sendiri dimana kau bukanlah seorang pembunuh. ‘Seorang detektif yang datang ke Magnefield hanya karena kasus.’ Aku telah mendengar fantasi ini selama dua tahun. Dan aku tahu semuanya dengan detail. Jane Wainscot, rekanmu Dean, para tikus, neuroleptics, dan semua halusinasimu yang lain.” Tutur Dr.Wells
            “INI TIDAK BENAR!! Namaku adalah Thomas Walter dan aku adalah seorang detektif!! Jika kau tetap bersikeras meyakinkanku bahwa aku gila, aku akan menarik pelatuk ini.” Ucapku dengan nada tinggi sambil menodong pistol kearahnya
            “Dengarkan aku, Matthew! Dua tahun yang lalu. Kau membunuh istrimu karena kau melihat dia berciuman dengan pria lain. Dan sampai di rumah kau langsung meluapkan amarahmu dan menembaknya tepat di jantung. Ini adalah buktinya. Kau tidak bisa menyangkal lagi.” Kata Dr.Wells sambil menunjukkan foto jenazah seorang wanita
            Aku terdiam. Aku mengenali foto ini. Setelah beberapa lama aku terdiam, tiba-tiba muncul sebuah memori. Memori ini dengan jelas datang kepadaku. Saat-saat ketika aku, ya, aku Matthew Rolas membunuh istrinya sendiri karena melihat dia berciuman dengan pria lain. Tidak lama kemudian, kepalaku terasa berat sekali. Lama-kelamaan semakin berat. Dan tiba-tiba semua menjadi hitam.
***
            Aku terbangun, di sebuah kamar. Dan aku melihat Dr.Wells bersama perawat lainnya berdiri di hadapanku. Tanpa basa basi Dr.Wells langsung memberikan pertanyaan kepadaku.
            “Mengapa kau disini?” tanya Dr.Wells
            “Karena aku membunuh istriku...” jawabku
            “Dan mengapa kau melakukan itu?” tanya Dr.Wells lagi
            “Karena dia berciuman dengan pria lain dan saat itu emosiku tidak terkontrol.” Jawabku
            “Siapa Thomas Walter?” tanya Dr.Wells lagi
            “Bukan siapa-siapa. Dia hanyalah pribadi ciptaanku untuk menutupi kejahatanku ini. Dan Jane Wainscot, Dean. Mereka tidaklah nyata.” Jawabku
            “Baiklah, aku harap kau sudah sembuh. Tapi begini Matth, kita pernah melakoni ini sebelumnya. Dua kali selama dua tahun terakhir ini dan kau selalu mengalami kemunduran.” Jelas Dr.Wells
            “Aku tidak ingat itu..” jawabku kebingungan
            “Kau me-reset Matthew. Kau sudah pernah seperti ini, namun setelah satu hari. Kau kembali lagi dengan Thomas Walter mu itu. Aku berharap bahwa apa yang kami lakukan cukup untuk menghentikan hal itu terjadi lagi, tapi aku ingin tahu bahwa kau telah menerima kenyataan.” Tutur Dr.Wells
            “Aku tidak tahu bahwa selama ini kau menolongku, Dr.Wells. Terima kasih karena sudah selalu membantuku selama dua tahun terakhir ini. Kau benar-benar berperan besar dalam hidupku ini.” Ucapku
            Akhirnya aku telah mengungkap kebenaran. Ya, kebenaran bahwa orang yang membunuh istriku adalah diriku sendiri. Aku hanya membuat cerita lain agar aku bisa menutupi kenyataan yang pahit ini. Waktu itu karena aku tidak habis pikir dan juga emosiku tidak terkontrol. Sehingga akhirnya aku membunuhnya. Aku sungguh menyesal sekarang. Aku sudah menghilangkan satu nyawa dan aku masih benar-benar mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana menebus dosaku itu. Mungkin cara ini adalah cara terbaik untuk menebus dosaku. Tetap tinggal di Magnefield hingga akhir hidupku.
            Setelah aku sadar dengan semuanya aku kembali menjalani pengobatanku di Magnefield. Pastinya dengan menggunakan nama Matthew Rolas. Bukan ‘Detektif Thomas Walter’. Hahahahaha. Hingga malam pun tiba dan aku memutuskan untuk tidur.
***
  Namaku adalah Thomas Walter. Aku adalah seorang detektif. Yang sering memecahkan kasus-kasus misterius. Berbagai kasus pembunuhan, penculikan, pencurian dan masih banyak lagi, sudah kutangani hingga tuntas. Aku juga memiliki istri yang bernama Janice Watson. Namun istriku meninggal karena dibunuh oleh seorang pembunuh yang sangat keji bernama Matthew Rolas. Meskipun pembunuh itu dihukum penjara tapi aku tetap memiliki dendam kepadanya.
...
...
...
-TAMAT-