Alfa dan Omega
Oleh : KristianW
Ravena dan Viena.
Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang sangat dekat. Mereka sudah menjadi
sahabat sejak kecil, tepatnya sejak duduk di bangku TK. Sebenarnya mereka
bertiga, namun salah satunya yang bernama Grace terpaksa harus meninggalkan
mereka sejak kelas 1 SMP karena Grace terkena penyakit kanker hati. Awalnya
Ravena dan Viena tidak bisa menerima kematian Grace. Namun lama-kelamaan mereka
mulai bisa menerima dan kembali melanjutkan kehidupannya seperti biasa.
Sekarang mereka sudah kelas 2 SMA. Sudah
lima tahun semenjak kematian Grace. Ravena dan Viena terus bersama-sama dan
juga bersekolah di tempat yang sama. Yaitu di Alpha Omega School yang terkenal dengan murid-muridnya yang
pintar-pintar. Termasuk Ravena, ia adalah seseorang yang sangat pintar dan
berprestasi. Dan juga Ravena selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya.
Berbeda dengan Ravena, Viena adalah murid terbawah di peringkat kelasnya. Namun
ia selalu dapat naik kelas karena ia dibantu mati-matian oleh Ravena. Untungnya
Viena masih memiliki niat untuk belajar sehingga ia tetap bisa mengikuti
pelajaran dan semakin tahun semakin meningkat.
Alpha
Omega School. Sekolah yang sangat bagus tetapi sekolah ini juga terkenal
dengan angkernya. Cukup mengerikan memang, sudah cukup banyak cerita-cerita
yang menjadi legenda di sekolah ini. Dimulai dari kejadian boneka 17 tahun yang
lalu, dengar-dengar ini adalah awal dari semuanya. Lalu kejadian siswi yang
bunuh diri setelah ujian nasional, lalu sebuah ruangan di lantai empat yang
tidak pernah dibuka, dan masih banyak lagi.
***
13
November 2016. Hari yang cukup cerah, namun agak mendung. Saat ini Ravena dan
Viena sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
fisikanya.
“Wei Rav ayo dong nomor 9 gimana
nih...” .
“Bawel lu Vi, lu juga bantu dong!
Susah nih.”
“Iya deh... gue bantu. Bantu doa ahahahahah.”
“Yee parasit dasar. Bisanya nyalin
doang.”
“Heh ini tuh namanya manajemen.
Pernah denger kan lu di ekonomi?”
“Oh.. manajemen ya. Jadi lu
manajernya, gua karyawan gitu?”
“Hehehe. Yaudah sih Rav, nanti kan
misalnya gua abis nyalin punya lu nanti gue pelajarin. Lu mau kan gue jadi
pinter.”
“Yaudahlah. Tapi masalahnya ini
soalnya ada 50. Kejam emang nih gurunya, ngasih tugas ga kira-kira. Mana
sebentar lagi udah bel pulang.”
“Ya kita lanjut terus aja Rav.
Selesaikan hari ini juga! Gue males soalnya kalo udah dirumah. Enaknya dirumah
tuh tidur, tidur, dan tidur.”
Lalu mereka terus mengerjakan tugas
itu meskipun bel pulang sudah berbunyi. Akhirnya setelah bersoal-soal mereka
lalui. Mereka pun menyelesaikannya, dan bersiap-siap untuk pulang.
Ketika mereka sudah sampai di lantai
dasar. Tiba-tiba hujan turun dan tanpa gerimis hujan itu mendadak menjadi
deras. Sangat deras sehingga mereka tidak bisa pulang kerumahnya masing-masing.
Akhirnya mereka kembali ke kelas mereka yang berada di lantai empat sambil
menunggu hujannya reda.
***
18:30. Dua jam menunggu di kelas.
Dan hujannya belum berhenti. Sekolah yang tadinya masih ramai sekarang menjadi
sepi, karena banyak yang dijemput oleh kendaraan. Sedangkan Ravena dan Viena,
mereka pergi ke sekolah dengan jalan kaki karena rumah mereka berdua kebetulan
tidak terlalu jauh dengan sekolah sehingga masih dapat dijangkau melalui jalan
kaki. Lalu mereka pun tetap menunggu walaupun hari sudah mulai gelap.
Sambil menunggu di kelas, karena
bosan hanya diam-diam dan tidur saja, akhirnya mereka pun berbincang-bincang.
“Eh Rav, daripada kita diem-dieman
gini. Mending kita cerita yang serem serem. Kan pas nih situasinya ujan ujan.
Beh, seru dah.”
“Ah gila lu Vi. Ujan gini, gelap
lagi. Yakin lu?”
“Gapapalah. Justru gelap gini malah
lebih seru.”
“Oh yauda, serah lu deh Vi. Gue
bosen juga sih...”
“Jadi gini Rav, gue diceritain kakak
kelas ini. Jadi konon katanya dulu di sekolah kita ini ada suatu kejadian
horror.”
“Kaya gimana horrornya Vi? Jadi penasaran
gue..”
“Jadi dulu, sekitar 17 tahun yang
lalu. Iya kita blom lahir. Dulu ada sekumpulan anak yang nyoba nyoba main petak
umpet sama boneka gitu. Bahaya banget kan itu, tapi mereka tetep lakuin itu.
Dan akhirnya. Ya, semua anak itu tiba-tiba ilang secara misterius. Gue gatau
deh kemana. Tapi banyak yang bilang katanya mereka dibunuh satu-satu sama
bonekanya.”
“Ah itu kok bisa ilang... emang gada
saksi mata sama sekali apa? Eh Vi ngomong-ngomong kok perasaan gue jadi gaenak
ya. Serasa kita ga cuma berdua.”
“Ya ada sih saksi mata. Cuma katanya
dia jadi gila gitu terus satu tahun kemudian dia bunuh diri di kamarnya
sendiri.”
“Sadis... Eh Vi beneran deh emang lo
ga ngerasa apa kita ga cuma berdua?
“Gak kok Rav, ah lu aneh-aneh aja.
Tadikan gue cuma cerita. Tapi gw juga ga bener bener percaya amat sama gitu
gituan. Ya seru seruan aja...”
BRAK! Tiba-tiba terdengar suara
pintu dibanting dari luar kelas.
“Tuhkan Vi!! Astagaaa, sumpah gue
takut ini.”
“Yaudah sih Rav, kita disini aja
dulu. Aman kan, nanti kalo ujannya udah berenti baru deh kita langsung lari
kebawah.”
“Ah yaudah deh, mana nanti pas turun
tangga lewat ruangan ‘itu’ lagi.”
“Bener juga, yaudah slow aja Rav. Nanti kita lari aja dari
sini. Sekarang gua mau nonton Youtube dulu
dah sambil nungguin ujan.”
“Yaudah, gua tiduran aja. Biar
ngilangin rasa takut gue. Sialan lo Vi gara-gara lo nih gue jadi takut.”
Akhirnya mereka kembali melakukan
aktivitasnya masing-masing sambil menunggu hujan reda. Menunggu dan menunggu.
Akhirnya sekitar jam tujuh malam hujannya reda. Dan mereka bersiap-siap untuk
pulang.
“Eh Vi, nanti lo yang keluar kelas
duluan ya.”
“Siap dahh, ayo sekarang keluar Rav.
Sebelum hujannya datang lagi.”
“Oke.”
Viena pun membuka pintu kelas. Lalu
dia menengok ke kiri dan kanan. Dan ternyata aman. Wajah Ravena terlihat sangat
ketakutan. Mungkin karena mendengar suara pintu tadi. Akhirnya setelah Viena
melihat keadaan diluar, dengan cepat ia langsung lari sekencang-kencangnya.
Mungkin karena ia juga merasa takut. Ravena pun mengikutinya dari belakang.
“WOI VIVI! TUNGGUIN DONG!” Ucap
Ravena karena susah mengejar Viena. Lalu Viena pun mengurangi kecepatannya.
Akhirnya mereka berlari terus. Dan
ketika mereka melewati ruangan ‘itu’, ternyata tidak ada apa-apa. Lalu mereka
lanjut menuruni tangga. Cukup melelahkan karena ini empat lantai. Ketika sampai
dibawah mereka memutuskan untuk istirahat sebentar.
“VI! Stop duluu. Gue capek banget
gila.”
“Cepetan dong Rav. Dikit lagi
nih...”
“Emangnya kenapa lo bilang lo ga
takut?”
“Oke, Rav. Gue mau jujur. Sebenernya
dari tadi gue juga ngerasain kalo kita tuh ga cuma berdua. Cuma gue berusaha
buat biasa aja biar gue ga takut. Tapi lama-kelamaan gue malah makin kerasa.
Terus juga tadi kan kita lewat ruangan itu, dan gw liat di kacanya. Ada sosok
cewe dibelakang lo Rav!!”
“ASTAGA! KENAPA GA BILANG
DARITADI!!! YAUDA AYO LARI.” Seru Ravena.
Mereka pun lanjut berlari.
“RAVENA! Sumpah jangan nengok ke
belakang! Gue ngerasa ada yang ngikutin anjir.”
Ucap Viena sambil berlari. Kali ini malah Viena yang ketakutan. Padahal tadinya
dialah yang paling berani dengan hal-hal seperti itu.
“Oke Vi! Tapi kok ini kenapa
koridornya serasa panjang banget ya?! Padahal itu gerbang udah keliatan. Tapi
bukannya makin deket malah makin jauh..” Ucap Ravena kebingungan.
“Yauda kita lari aja terus! YANG
PENTING JANGAN NENGOK BELAKANG!” Kata Viena.
Mereka terus berlari. Namun mereka
bukannya semakin dekat menuju gerbang melainkan mereka semakin jauh. Mereka
seperti berlari di treadmill.
Berlari-lari tanpa adanya perpindahan.
“VI! KAYANYA KITA UDAH GA DI DUNIA
NYATA DEH.” Kata Ravena sambil teriak.
Akhirnya karena penasaran Ravena pun
menghentikan larinya dan menengok ke belakang.
“VI....!!!!” Ravena pun tewas
dibunuh oleh sosok perempuan yang tadi dilihat Viena.
Awalnya Viena tidak sadar kalau
Ravena sudah tidak ada. Namun lama-kelamaan ia menyadarinya.
“RAV? RAV? JAWAB DONG!” Ucap Viena
sambil terus berlari. Ia memanggil Ravena terus menerus namun tidak ada jawaban
dari Ravena. Lalu Viena pun merasa ada yang janggal dengan Ravena. Akhirnya Ia
pun dengan penuh keberanian menghentikan larinya.
Dan ketika Viena menengok ke
belakang... Ia melihat jasad Ravena sudah meninggal. Jasad Ravena tidak berada jauh,
karena sebenarnya mereka berlari tanpa adanya perpindahan sama sekali. Lalu
Viena mendekati jasad Ravena.
“RAV!!! SADAR RAV! INI GA MUNGKIN.”
Ucap Viena sambil menangis.
“Maafin
gue Rav, kalo selama ini gua suka nyusahin lu, kalo selama ini gue cuma jadi
parasit, kalo gue suka gangguin lo pas belajar. Maaf banget....” Lanjut Viena
dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Ia pun kemudian memeluk jasad
Ravena sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyesal karena telah meremehkan
hal-hal berbau mistis yang padahal benar adanya.
“Kalo
begini caranya, lebih baik gue bunuh diri... abis udah hidup gue. Maafin aku ya
mama dan papa.” Tutur Viena sambil menghapus air matanya.
“Kamu
gak perlu bunuh diri kok.” Sahut seseorang di belakang Viena. Lalu Viena menengok
ke belakang dan...
“ARGHHHHHHHH!!!”
..............................................................
Mereka
pun meninggal dengan posisi berpelukan. Sungguh sahabat sejati.
***
Semenjak hari itu sekolah mereka
semakin dikenal angkernya. Dan masyarakat sekolah juga menjadi ketakutan,
karena kejadian ini mengingatkan kepada kejadian 17 tahun yang lalu. Karena
lagi-lagi jasad Ravena dan Viena tidak ditemukan sama sekali. Bahkan banyak
saksi yang berkata bahwa mereka berdua sudah keluar dari sekolah sejak bel
pulang yaitu jam tiga sore.
Namun
kepala sekolah memberi himbauan agar rakyat sekolah itu tidak panik dan tetap
dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan normal.
Alfa
dan Omega. Seperti artinya dalam bahasa aslinya yaitu yang terawal dan yang terakhir.
Sudah 10 tahun sejak kejadian Ravena dan Viena, dan tidak ada lagi
kejadian-kejadian aneh di sekolah itu. Sungguh suatu kebetulan...
Berawal
dari insiden boneka, dan berakhir dengan kejadian Ravena dan Viena.
***
...
...
Ha...
Ha... Ha... Akhirnya kita bertiga bisa bersama-sama lagi....
-TAMAT-
Credit : Teddy Bear (ZRH/Jappy)